Bad Love Story Part 2

Hujan datang pada siang itu, tepatnya pukul 12.46. Dan beberapa siswapun berlarian ke lapangan karena saat itu tidak ada guru yang mengajar.  Sedangkanaku lebih memilih mendengarkan musik dari headsetku dan memainkan handphoneku, tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. Aku pun melihat ke arah wajahnya.

"Ada apa?" tanyaku pada seorang temanku yang bernama Shifra, Shifra adalah orang yang jujur dengan apa adanya dirinya. Sanyang, anak sejujur dirinya harus ditinggal oleh ayahnya karena perceraian. Sekarang ia hidup dengan Ibu, Nenek, Kakek dan Adiknya yang masih ditaman kanak-kanak.

"Ma, nanti mau ke rumahku nggak? Mamahku ke Surabaya sama yang lain. Aku jadi home alone." kata Shifra mengajakku, aku juga sangat ingin pergi, tetapi aku harus pergi ke tempat les yang dekat dengan sekolahku hari ini.

"Maaf, aku harus les." kataku menolak ajakan Shifra, Shifra hanya mengangguk sebagai balasannya kemudian dia bernjak pergi karena dia tahu jika aku tidak suka seseorang mengganggu kegiatanku dalam jangka waktu yang lama.

Setelah Shifra pergi aku langsung melanjutkan kegiatanku yang tertunda, iringan musik yang terdengar membuatku tidak memperhatikan keadaan sekitar dan fokus pada handphoneku. Aku sangat suka jika aku berada diduniaku sendiri, taat pada peraturan membuatku terlihat sangat kaku untuk orang yang belum mengenalku.

"Rahma! Dipanggil Mimo!" teriak orang yang bernama Salma, aku melihatnya basah kuyup hingga ia tidak sadar jika dia membasahi kelas. Aku pun mengalihkan pandanganku pada Mimo atau nama aslinya Titania yang sedang bersembunyi dibalik pintu, lalu aku mendatanginya setelah melepas kabel-kabel berwarna putih yang menyumbat telingaku.

Aku menatapnya dengan tatapan bertanya, seolah-olah aku tidak perlu mengatakan apapun tetapi dia bisa mengerti. Kemudian dia berkata, "Rahma, nanti aku nggak ikut les." Akubtidak mengatakan apapun dan menganggukan kepalaku tanda setuju, kenapa aku tidak bertanya alasannya? Karena jawaban yang sembilan puluh delapan persennya betul itu sudah terjawab sebelum dia mengatakannya, yaitu pacarnya Yudi ingin bertemu, dan dia tidak mengatakannya oada orang tuanya. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun, karena aku tahu karma akan selalu berlaku apabila kita membohongi orang tua kita sendiri.

"Hei, apa kau punya uang? Aku pinjam." kata Wisnu tiba-tiba, tetapi aku tidak menjawabnya karena uang yang akan aku berikan pasti tidak akan dikembalikan. Dia menepuk pundakku lagi, dan akhirnya aku membuka mulutku, "Tidak." dan kembali ke tempat duduk dengan tenang dan tidak menghiraukan apapun.

Meski pun ada seseorang yang sedang membicarakanku dibelakangku.

Bel pulang sekolah pun berbunyi dan seketika itu pun anak-anak langsung mersorak gembira dan langsung menuju ke arah gerbang dengan seragam mereka yang basah kuyup. Sedangkan aku memilih pergi ke sebuah kelas yang diberi nama kelas delapan E, menemui seorang teman les sekaligus teman kelas tujuhku yang bernama Isma, tetapi dikelas itu masih dihuni oleh beberapa orang yang masih memilih tinggal dari pada pulang.

Yaitu, Isma, Nabella, Febri, Arum, Asrori, dan yang terakhir adalah Andre.

"Isma ayo!" kataku tersenyum pada Isma yang sedang duduk dengan Nabella, Febri dan Asrori. Mereka pun tersenyum ketika melihatku karena aku cukup dekat dengan mereka, "Nanti dulu deh kan masih ada 1 jam lagi." kata Isma membuatku labgsung duduk disamping Andre yang sedang bermain dengan laptopnya dan memanfaatkan Wifi sekolah.

"Ada apa dengan wajah kusutmu? Oh iya, aku lupa jika wajahmu sudah kusut dari dulu." kata Andre yang langsung mendapatkan tendangan dariku yang membuatnya kalah. Aku dan Andre audah biasa seperti saudara kembar yang kadang-kadang membuat beberapa perkelahian dan baik-baik saja beberapa saat kemudian.

"Aku hanya ingin tidak les hari ini." kataku sembari menghela nafas berat, kemudian Andre menjentikkan jarinya pertanda ia mempunyai ide yang bagus. "Kalau begitu, jangan les."

"Jik kau ingin Rahma dimarahi oleh kakaknya maka ayo lakukan." kata Isma membawa kakakku dalam percakapan kita, oh iya, aku lupa menceritakan jika aku berbohong pada semua teman-temanku jika aku mempunyai kakak yang berjiwa dingin dan kasar. Tetapi sebenarnya kakakku hanyalah kakak biasa yang menyayangi adiknya dengan caranya sendiri.

"Lupakan. Aku akan menulis saja." kataku mengambil handphoneku dan menulis sebuah cerita di sebuah aplikasi yang mengijinkan siapa saja menjadi penulis dan pembaca.

"Sudah sampai mana?" tanya Nabella padaku tiba-tiba, aku menjawab sampai dimana peran utama dan peran pembantu bertengkar. Kemudian  Nabella menceritakan padaku tentang temanku Tere yang akan dilabrak oleh anak-anak populer yang biasa aku panggil siswi murahan. Kenapa? Karena ada salah satu dari mereka yang suka menyerahkan badan mereka kepada siswa lain untuk mendapatkan uang dengan cara cepat.

"Bagaimana jika kau ikut dan menonton saja, siapa tau kau bisa mendapatkan inspirasi." kata Nabella membuatku berfikir dua kali, sampai-sampai Asrori yang tadi diam saja mulai menasihatiku untuk tidak ikut campur dan menonton saja.

"Aku tidak janji, tapi aku akan ikut. Jangan khawatir." kataku menyuruh semua orang yang disana untuk tidak khawatir karena aku sudah yakin jika Tere pasti akan menang.

Komentar